Website kursus coding anak yang kurikulumnya berbentuk skill tree

Masalahnya
Kursus coding anak menjawab orang tua yang sama sepanjang minggu — kelas mana yang cocok untuk usia anak saya, apa yang sebenarnya dipelajari, kapan kelompok berikutnya mulai, berapa biayanya, bisa coba dulu atau tidak. Kurikulumnya ada di PDF yang tidak pernah dibuka, jadi setiap pertanyaan itu berubah jadi chat, dan orang tua yang harus bertanya lima kali sering berhenti di pertanyaan kedua.
Yang kami bangun
Sepuluh jenis halaman dalam bahasa Indonesia dan Inggris, digambar seperti game pixel art. Setiap kelas adalah skill tree yang bisa diklik orang tua untuk melihat apa yang dipelajari dan dibuat anaknya di setiap level. Papan quest menampilkan jadwal term dengan sisa kursinya, mentor tampil sebagai kartu party, dan Hall of Fame memamerkan game, situs, dan robot buatan murid. Pendaftaran trial dibuat seperti membuat karakter: usia anak dan tiga pertanyaan singkat memilihkan kelas, orang tua memilih jadwal, lalu sekali ketuk mengirim pesan WhatsApp yang sudah menyebut nama anak, kelas, dan jamnya.
Proyek lainnya

Halaman restoran yang menjawab empat pertanyaan itu-itu saja
Satu halaman berisi menu lengkap dengan foto, jam buka, peta lokasi, dan tombol langsung ke reservasi, WhatsApp, dan LINE. Pertanyaannya terjawab sendiri sebelum ada yang perlu mengetik.

Halaman barbershop yang menjawab soal harga sebelum ditanya
Satu halaman berisi daftar harga lengkap dengan durasinya, latar belakang barber-nya, hasil kerjanya, dan jam buka, ditutup tombol WhatsApp yang selalu ada dalam jangkauan jempol. Pertanyaannya terjawab sebelum ada yang membuka chat.

Halaman kafe yang sudah tahu sedang buka atau tidak
Lima halaman dalam bahasa Indonesia dan Inggris berisi menu lengkap dengan harganya, tiga outlet dengan badge buka-sekarang yang membaca jam Jakarta sungguhan alih-alih tulisan mati, dan tempat memesan di setiap layar — WhatsApp di header, GoFood dan GrabFood sejauh satu jempol di ponsel.


